RSS

Gantungan Hati

"Ini kok bisa terjadi yah?"

  • “Saya sudah rencanakan dengan begitu matangnya, hampir setiap detailnya sudah dipikirkan, Kalau terjadi A maka B pasti terjadi. Kalau saya lakukan ini pasti itu terjadi. Tapi.. tapi kok beda jauh yah, semua diluar dugaan saya. Saya sudah begitu sempurna merancangnya tapi kok jauh melenceng dari yang diharapkan, Ini Kenapa?”

Kurang lebih mungkin seperti itu ketika sebuah kegagalan datang, pertanyaan itu begitu saja muncul dalam pikiran ketika apa yang kita harapkan jauh dari yang kita sebelumnya. Satu rasa untuk melengkapinya menjadi lebih sempurna, KECEWA.

Sedari kecil kita sudah dicekoki dengan namanya teori akal. Pada umumnya orang berpikiran kurang lebih sama, ingin kaya ya harus kerja, banyak menabung, bekerja lebih keras dari yang lainnya. Kekayaan itu memunculkan sebuah fasilitas lengkap yang bisa kita nikmati kapan saja, semau kita. Simbol kesuksesaan adalah kaya, dan menjadi kaya itu sukses. Sukses yang telah kita dapatkan sekarang adalah hasil dari kerja keras kita selama ini. Betul begitu bukan?

Secara data kebiasaan berpikir manusia ini memang benar, secara perhitungan kebiasaan akal ini juga benar, dan secara hukum kesimpulan sebab-akibat itu juga benar. Data yang telah diterima akal ini memang sesungguhnya benar, demikian pula kesimpulan dari data yang diterima akal itu benar adanya. Tapi ketika terjadi sesuatu yang jauh diluar dugaan kita, apanya yang salah? Jawabnya tak ada yang salah, Wong data yang telah kita terima semuanya benar kok, hanya saja data yang kita terima itu belumlah lengkap. Jadi tak ada yang salah, hanya kurang lengkap.

Data yang terlewat dan belum dimasukan didalamnya itu data tentang kebergantungan kita kepada Tuhan Sang Pencipta Alam. Data yang berisi bahwa kita hanya bisa bergantung tanpa terkecuali hanya pada Allah semata. Saya tak menyalahkan akal, saya tak menyalahkan kebiasaan. Saya hanya mencoba mendudukkan persoalan pada tempat yang semestinya, tempat dimana memang disitulah paling tepat kita bergantung sebenarnya.

Sadar atau tanpa sadar kebergantungan terhadap teori akal inilah yang membuat kita putus asa, kecewa, droop atau bahkan stress. Kalau yang sudah kita cita-citakan ataupun kita rancang dengan matang melenceng jauh dari apa yang kita terima sekarang.  Seperti saya bilang diatas, saya tegaskan sekali lagi. Saya tidak berpikir bahwa teori akal itu salah. Data teori akal itu benar, hanya saja data itu kurang lengkap.

Saya coba analogikan begini. Saya yakin Anda pernah jatuh cinta, kalau gak pernah,  waduuuh sungguh sangat kasihan. Jomblo kok dipelihara. Hahahha.. oke, kembali ke laptop. Tiba-tiba saja Anda ketemu sama cewek yang cantiknya bertubi-tubi, otomatis kita jatuh hati. Langkah awalnya kita dekati, tanya nama, dimana alamatnya. “Hai, adik punya obeng? | aduh, gak punya mas | klo gitu nama punya dong?” Nama dapet. Gak cukup itu juga rayuan awal kita coba “Namanya siapa? | Anita Cita Budi Sukma Rahardini *bukan nama sebenarnya* | walaah, kok panjang amat, klo mas panggil “Sayang” aja bisa?” Sang perempuan Mabuur dhuwur, merespon dengan megap-megap, kitanya mubeng koming, makin jadi. Rayuan maut dilepaskan sebegitu rupa.

“kamu anak polisi yah? | koq tau? | Iya karena kamu selalu patroli dihatiku.| Jreng…jreng…

“Kamu punya karet gelang nggak | Buat apa? | Buat ngikat hatiku padamu | *ceweknya susah napas sudah.

“hpmu kartunya apa? | kartu XL mas | aduh, kok beda sih, ayuuk kita buat kartu keluarga aja, aku jadi kepala keluarganya, kamu ibu rumah tangganya | Jeggeeer…

Singkat cerita pacaran, apa yang dibutuhkan itu cewek kita penuhi. Dari masalah properti sampai urusan hati. Jadi pacar siaga 24 jam. Pelan-pelan jalan, hati sudah saling terkait, muncullah sebuah keyakinan. Ini… Ini.. ISTRIku nanti, HARUS JADI ISTRI SAYA, Klo gak sama dia lebih baik mati. Anda merasa dia adalah satu-satunya perempuan yang begitu sempurna.

Lha kok seiring jalannya waktu, ada satu saja kesalahan. Anda telat melamarnya dan keduluan orang lain. Harapan yang tadi tersusun rapi pecah berantakan. Gantungan hati itu diam-diam pergi. Anda hanya bisa meratapi, “Kok bisa gini sih yah? Saya kurang apa coba?” “Bagaimana bisa, Lha wong dia itu juga cinta mati ama saya kok.” Pertanyaan itu yang sekarang muncul. Semua buyar, ambyar sudah. Karena apa? Ya karena data yang kita terima tak sesuai dengan kebiasaan yang sudah ada. Jika Sebabnya ini, maka akibatnya ini. Jika sebabnya itu maka akibatnya itu. Inilah yang terjadi saat kita menggantungkan harapan besar kepadanya yang tak kekal. Kita membatasi atas kuasa prediksiNYA dengan keterbatasan prediksi yang ada dalam otak kita.

Kecewa sudah, linglung kita jadinya, harapan hilang begitu saja. Sia-sia usaha yang kita bangun dari nol. Semua carut-marut jadi satu. Sisanya tinggal pusing dikepala, galau, patah hati, pokoknya semua yang muncul hanya mengajak kita ke rumah sakit jiwa. Ini terjadi bukan hanya untuk masalah cinta saja, hampir disemua bidang kita rasakan. Bisnis, politik, bekerja, pokoknya semua deh yah.

Kita mengaku beragama tapi kadang lupa menyertakan Tuhan dalam setiap usaha yang kita lakukan. Kita terlupa menyerahkan setiap hasil kepada Yang Maha Kuasa membolak-balikkan segala halnya. Karena segala sesuatu yang sesungguhnya sangat luas luar biasa, kita batasi hanya dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Rencana Tuhan yang begitu sempurna, kita batasi dengan kesimpulan alam nalar yang kita punya. Kalo seperti ini, SEMESTINYA itu harus begini. SEHARUSNYA itu harus seperti itu. POKOKNYA bakalan terjadi seperti ini. Dibandingkan dengan Yang Maha Punya Daya, kemampuan kita itu seberapa?

*Bersambung (Kalau Tuhan berkenan).

 
1 Comment

Posted by pada Maret 24, 2012 in Corat-coret

 

Kaitkata: , , , ,

Merayakan KEGAGALAN

“Failure is an event, never a person; an attitude, not an outcome.”- Zig Ziglar

Penderitaan yang paling menghina diri adalah kegagalan. Saya menganggap itu benar. Tapi, apakah kita harus mati rasa karena bencana kegagalan tersebut?

Perlu dicatat, tidak ada satu orang manusia pun di dunia ini yang tak pernah mengalami kegagalan. Kegagalan memang menguras energi, menghabiskan hampir setengah dari otak kita untuk berpikir. Mengerus sebagian dari hati kita untuk merasakan duka, sedih, derita, luka dan macamnya lagi. Bahkan beberapa diantaranya menjadi stress hingga tak jarang ada yang mengakhiri hidupnya dengan tragis.

Generasi muda saat ini adalah mereka yang paling bingung menentukan arah hidup. Akan kemanakah mereka? Enam puluh persen dari mereka hanya hanya mengikuti arus hidup yang telah diciptakan lingkungan. Orang-orang muda inilah orang yang paling mudah terbawa arus. Paling mudah dipengaruhi, mau diajak melakukan apapun.

Tulisan ini bagi Anda yang pernah merasakan kegagalan. Dan maaf bukan untuk Anda yang tidak pernah gagal, yang hanya merasakan hidup ini mengalir tanpa risiko, saya dedikasikan sedalam-dalamnya untuk Anda, wahai orang-orang yang berani bangkit satu kali lebih banyak daripada jatuh. Kita adalah kelompok yang berani bersuara lantang bahwa kegagalan adalah proses yang harus dilewati menuju sukses.

Harapan terbesar saya adalah memberi dorongan semangat. Tidak ada kegagalan yang paling menyesakkan jika Anda masih memiliki semangat untuk terus maju bangkit dari kegagalan itu.

Tuhan menciptakan semesta ini dengan amat sempurna, bahkan kegagalan adalah bagian dari roda hidup manusia. Lebih dahsyat lagi ternyata Tuhan mencintai kegagalan sehingga Dia memberikan kesempatan lebih banyak bagi umatnya untuk merasakan gagal.

Sukses adalah sukses.  Hak kita untuk mendapatkannya, kegagalan hanyalah sebuah proses yang harus ditempuh untuk meraih keberhasilan. Dan berani bangkit dengan semangat luar biasa adalah paling pantas dari sebuah perjuangan kegagalan. Rasakan build your own potential with power fail di hati Anda.

Orangtua saya, ayah saya, memberikan kebebasan kepada saya untuk memilih cara sendiri menghadapi kehidupan. Bukan lagi rahasia lagi kalau seorang anak muda tanpa pengalaman dan jabatan adalah orang yang tidak punya apa-apa, yang tak pantas untuk diperhitungkan siapa pun. Tetapi manusia dilahirkan dengan cara yang sama, sama-sama telanjang, sama-sama mulai belajar berjalan, sama-sama pernah jatuh bangun dan sama-sama pernah menangis. Ibu setiap anak sama-sama menderita saat melahirkan. Saya sangat bersyukur, Ibu selalu merestui apa yang ingin saya lakukan.

Yang membedakan kebanyakan orang adalah saat mereka proses bertumbuh. Ketika mereka pertama mengenal yang namanya “KEGAGALAN” banyak orang akan menghindari penyakit itu.  mereka lebih memilih bermain aman daripada mengambil resiko gagal. Demikianlah kenyataan hidup. Gagal dan gagal menjadi menjadi sesuatu yang sebaiknya harus kita hindari.

Bukankah lebih enak menjadi pengikut dari pada merintis jalan baru? Kan lebih mudah melewati jalan yang pernah dilewati orang ketimbang Anda merintis jalur baru di hutan belantara.

Nah, jika melihat kondisi seperti ini, maka muncul pertanyaan, akan kemanakah kita? Apakah akan seperti kebanyakan orang atau berani menempuh jalan kita sendiri? Memang tidak mudah jika kita berani mencoba sesuatu yang beda dari orang lain. Akan banyak godaan dengan suara-suara miring yang membuat nyali Anda ciut. Kita akan berjibaku dalam perang mental yang dahsyat, yang kadangkala membuat kita mundur dan gagal di tengah jalan.

Tetapi, tunggu dulu. Anda bayangkan jika tidak ada orang seperti Thomas Alva Edison, penemu lampu yang berani merintis jalannya sendiri, jika tidak ada Albert Enstein akankah momen indah bisa didokumentasikan lewat foto? Dan mungkin jika tidak ada Sichiro Honda Anda tidak akan mengendarai mesin beroda.

Ada banyak orang yang menempuh jalan mereka sendiri yang pada awalnya dicibir orang lain. Itulah hukum alam. Jika kita tidak sama dengan kebanyakan orang, kita harus siap menerima perkataan konyol dari orang lain. Yang perlu kita lihat adalah nilai pengembalian dari ‘investasi’ Anda. Edison menjadi orang kaya dan terkenal sepanjang masa demikian pula Einstein, Sichiro Honda, sekaligus pula Kolonel Sanders (KFC) yang memiliki outlet wara laba hampir di seluruh dunia.

Jadi, jangan pernah takut menempuh cara dan jalan Anda sendiri. Jadilah orang yang luar biasa, karena suatu saat nanti Anda akan diperhitungkan orang lain. Bahkan melampui apa yang Anda bayangkan sebelumnya. Kita hanya membutuhkan waktu dan bukti nyata. Karena tanpa bukti, semua akan benar-benar gagal. Semua akan menjadi hampa. Sia-sia.

Tidak ada manusia yang terlahir untuk gagal. Kejatuhan dan keterpurukan adalah proses pendewasaan. Saat kita jatuh kita mempunyai 2 pilihan : “Oke, cukup sampai sini, saya tidak mau mencoba lagi” atau “Oke, kalau begini belum berhasil, saya ubah rencana, saya ubah strategi, saya ubah taktik, dan saatnya mencoba lagi.”

CHOICE IS YOURS!!!

 
3 Comments

Posted by pada Februari 23, 2012 in Pembakar Semangat

 

Kaitkata: , , ,

“Baiti Jannati” [Rumahku, Surgaku]

Pada suatu masa, pernahkah Anda merasa sangat lelah menjalani setiap proses kehidupan? Lelah setelah seharian bekerja, Terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan. Lalu semua kemudian bermuara pada sebuah tempat yang mampu menghilangkan itu semua. Tempat yang begitu sangat menenangkan, tempat merebahkan setiap pegal, letih, keresahan dan tempat memulihkan kekuatan. Bukankah muara itu adalah RUMAH?

Bagi saya sendiri, rumah bukanlah benda mati. Bukan hanya tersusun dari batu bata, semen, dan kayu saja. Lalu dihiasi dengan cat tembok warna-warni, megah dengan berapa tingkat susunannya, mewah dengan furniture serta isi tambahan lainnya. Kalau polisi mengatakan cara berkendara kita, adalah menggambarkan kepribadian pengendaranya. Begitu juga dengan rumah kita. Rumah menggambarkan kepribadian yang kita miliki.

Desain rumah yang kita hasilkan sesungguhnya merupakan runtutan kejadian psikogis kita pada saat kita merencanakannya. Ide-ide kita adalah kepribadian itu sendiri, karenanya munculah konsep rumah minimalis, kolonialis, tropis atau konsep-konsep lain yang tidak lain adalah pencerminan kepribadian kita. Bahkan bila kita tidak tahu apa yang kita inginkan akhirnya serta-merta kita meniru konsep yang ada, itupun sesungguhnya menggambarkan kondisi psikologis pada saat itu.

Menarik benang merah, terbersit sebuah ide bahwasannya rumah adalah inspirator terbesar kita dalam menapak jalan kehidupan. Coba Anda renungkan, rumah adalah pintu keluar pertama untuk memulai segala aktivitasnya. Rumah juga menjadi pintu terakhir yang kita masuki setelah hampir seharian bekerja. Disitulah tempat kita merebahkan diri dan mulai membangun mimpi-mimpi, lalu menjadikannya nyata pada esok pagi.

Coba bayangkan lagi, setelah menikah bukankah mimpi pertama Anda adalah memiliki rumah? Jika iya, hubungi saya (saya juga makelar rumah, hehehehe). Setiap susunannya memiliki makna. Ada aturan pakem yang harus kita patuhi, bukan hanya asal berdiri, bukan juga asal meneduhkan dikala hujan dan bukan pula menyejukkan dikala panas sengat mentari. Bukankah membangun rumah sama dengan kita membangun prinsip hidup? Bangunannya harus punya pondasi yang dalam, harus dipilih dari kayu yang kuat, campuran pasir, semen yang seimbang, menggunakan bata yang bagus, genteng yang tahan bocor. Bukankah sama dengan memilih apa yang kita masukan dalam setiap pikiran kita. Dari situlah semua bermuasal. Rumah adalah inspirasi. Bagi saya sendiri, membangun rumah adalah membangun kehidupan.

Rumah, tempat paling nyaman merebahkan lelah.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada Februari 10, 2012 in Corat-coret

 

Kaitkata: , , ,

Batas antar mimpi dan reality adalah AKSI

Beberapa malam ini aku begitu malas untuk tidur, entah kenapa. Pernah, sekali waktu aku coba memaksa untuk memejamkan mata, aku juga sudah mematikan lampu kamar, televisi yang notabene seharusnya masih tetap menyala untuk menemani sampai terlelap tanpa sadar, tetapi beberapa malam ini tidak ada pengaruhnya. Pernah juga aku mencoba untuk minum beberapa butir obat tidur namun tetap saja tidak ada efeknya. Kelelahan seluruh badanpun juga tidak menimbulkan rasa kantuk yang berlebihan.

Ditengah kemalasan itu, aku coba menghidupkan laptop, menyeduh segelas teh dan membakar sebatang rokok. Aku lanjutkan dengan membuka beberapa folder file yang memang cukup lama tersimpan. Mataku terhenti pada sebuah folder yang sebenarnya selalu muncul setiap harinya, tetapi hampir tak pernah tersentuh apa lagi membukanya. Ada “kemalasan aneh” yang membuat aku melewatinya dan tak peduli lagi. Dan malam itu entah kenapa aku tertarik untuk membuka dan membaca lagi apa saja isinya.

Seingatku, folder itu aku buat sekian tahun yang lalu. Tempat untuk menyimpan tulisan-tulisan yang sempat menjadi mimpiku setiap hari. Aku lupa entah kapan berhenti dan kenapa tak mau menyentuhnya lagi. Aku malas untuk mengingat-ingat kembali. Folder “Don’t write me of”.

Sambil mengutak-atik Jet Audio, aku mencari-cari beberapa lagu yang dulu sempat menemani sewaktu menuliskan semua itu, mencoba menghadirkan suasana dulu kembali tepat dihadapanku. Gilaaa… semua lagunya juga masih tersimpan rapi dalam folder yang ku beri nama “soundtrack of my life”. Segelas teh hijau, asap rokok, lagu-lagu yang tak melulu sendu dan sebuah ruangan sempit sedikit berdebu. Suasana yang kurang lebih sama, saat itu aku terserang insomnia akut yang mengizinkan aku tidur hanya setelah jam 4 bahkan jam 5 pagi. Sama seperti saat ini. Tapi tak apalah yang penting nostalgi itu kembali.

Satu per satu aku buka file-file setengah jadi itu, aku baca sambil mencoba mengingat kapan menuliskannya. Terkadang aku tertawa lebar atau hanya tersenyum masam membacanya, saat memori itu kembali. Kerutan juga tergurat di dahi ketika ada beberapa tulisan yang aku sendiri binggung maksudnya apa. Apa karena dulu pas lagi mabuk nulisnya yah??? Dan saat itu aku malas memikirkannya lagi.

Beberapa tulisan yang kubaca memberiku semangat untuk melanjutkannya lagi, tapi sekian detik itu juga kemudian padam, yah karena “malas yang aneh” itu masih betah memijit pundakku dengan lembutnya. Dan sengaja kubiarkan saja, biar tau siapa yang lebih betah nantinya.

Sebenarnya salah jika aku pasrah pada kehendak ‘kemalasan’. Semangat selalu terkalahkan jika bertabrakan pada dua pilihan, memaksa melanjutkan atau duduk diam tidak melakukan apa-apa. Dan aku selalu mengambil pilihan kedua. Kenapa? Kadang diam dan tak berpikir sangat menenangkan. Atau mungkin begini, terlalu banyak yang harus dikerjakan hingga terlalu banyak berpikir mana yang harus didahulukan, dan karena keterlaluan mikirnya hingga gak dikerjakan juga. Sungguh rumit.

Tapi apalah itu maksudnya, tetap saja malas adalah sebuah menu masakan paling enak tepatnya. Ramuan dari remah-remah kepenatan, sedikit kebosanan dan beberapa sendok teh kejenuhan. Teraduk menjadi satu dalam gelas cukup besar dan aku tenggak sekenanya. Efeknya luar biasa kawan, bisa sampai satu bulan penuh tetap saja mencengkeram otak dan membuat suasana nyaman. Nyaman dalam “kemalasan yang aneh”, kemalasan tanpa alasan.

Oke, berhenti sudah tentang alasan bahwa malas itu harus dimaklumkan. Aku lanjutkan tentang apa yang aku lakukan malam itu. Mouse kembali aku hentikan lagi pada sebuah file yang judulnya masih ngawur, “impian itu bla..bla…” Aku penasaran, aku sendiri lupa apa isinya. Aku berpikir keras, mencoba mengingat-ingat. Lalu “Sang Malas” datang dan membisikan sesuatu di telinga kiriku, “Akhh… sudahlah kawan, buat apa diingat. Paling juga tulisan sampah yang membosankan. Ganti lainnya saja”. Aku diam sesaat, lalu pelan-pelan mouse kembali mencari file lain lagi. Namun selang beberapa saat kemudian, “sang rasa penasaran” datang, “Ayoolah… kmu lihat judulnya itu..itu.. bikin penasaran tauk, cobalah buka, siapa tau menarik dan kamu punya keinginan untuk melanjutkan”. Ehmmm… benar juga, untuk sekali itu ada semangat lagi, yah walaupun hanya satu centi.

Aku klik double ditelunjuk kanan yang menyentuh mouse. Akhhh… setaaan.. loadingnya juga lama.. aku malas pikirku. Lalu …

Mimpi itu khayalan, mimpi itu sesuatu yang kau harapkan, yang harus kau timang-timang, kau buat terbang setinggi-tingginya lalu dengan segenap kekuatan kau panjat untuk kau raih kembali. Mimpi itu visi, hanya kau bisa bayangkan lalu kau jalankan, melangkah panjang tanpa tahu kedepan seperti apa aral dan rintangan.
Tarohlah saja begini, Mari kita bayangkan seolah-olah saat ini kau sedang berada dalam sebuah mobil dan menempuh perjalanan malam hari, gelap gulita dengan sebuah tujuan yaitu kota “A”. Jalur mana saja yang akan kau tempuh, mari kita buat seolah-olah di sepanjang jalan tersebut tak ada lampu. Dan satu-satunya sumber penerangan yang ada disitu pada saat itu adalah lampu mobilmu sendiri.
Jarak yang kau tempuh tak jelas, mungkin bisa mencapai ratusan kilometer. Tapi kau tetap saja melaluinya dengan hanya berbekal pada cahaya lampu mobil, yang paling hanya memiliki jarak jangkau sekitar 60 – 70 meter kedepan. Modal satu lagi yang kau punya adala “keyakinan”. Keyakinan bahwa pasti akan adanya jalan di depanmu yang mampu terlewati. Terus seperti itu, terus ada jalan, kadang berkelok, kadang tanjakan, lalu turunan yg sedikit curam, terkadang mulus, terkadang bergelombang. Kau masih saja berjalan. Tak peduli seberapa panjang, seberapa berat perjalanan Kau punya keyakin kuat, bahwa jarak yang beratus-ratus kilometer tadi pasti ada tujuan akhir yang engkau inginkan, yang seperti kau impikan. Kota “A”.
Lalu, setelah jarak yang jauh kau tempuh. Pelan-pelan kota yang kau harapkan samar-samar terlihat, jelas dan semakin jelas. Ada senyum sumringah dibibirmu, lalu dengan sisa keyakinan itu kau injak gas sekuat-kuatnya untuk sampai tujuan.
Paham dengan maksudku diatas bukan? Sama seperti melaju dengan mobil itu, sama halnya kamu melaju dalam setiap kehidupanmu. Kau berada dalam “mobil kehidupanmu” sendiri. Kau menyetir sendiri dan tak ada pengganti. Tak perlu cemas dengan apa yang masih gelap gulita, yang sudah terlihat terang lewati saja, toh juga akan terbuka terang jalan yang kau lihat gelap itu nantinya.
Ada seorang teman dulu pernah bilang padaku “Bro… bolehlah berangan-angan jauh kedepan, tapi yang harus diingat dan lebih penting adalah apa yang kau lakukan sekarang” begitu wejangannya. “Jangan terlalu jauh menatap apa yang harus kau lakukan nanti kedepan, takutnya ntar kamu lupa apa yang seharusnya dilakukan sekarang.” Begitu pula dia melanjutkan.

Malam itu aku benar-benar tenggelam dalam diam. Rasa malas yang sejak dulu aku agung-agungkan meretak dan runtuh berantakan. Ada berapa hal yang sejak dulu aku salah tafsirkan. Cita-cita yang coba aku gantungkan setinggi langit, buat apa kalau hanya untuk aku pandangi keindahannya. Mimpi yang terlalu tinggi membuat aku sangat bangga, padahal setiap hari aku hanya berdiam diri, hanya sekadar mengagumi.

Batas antar mimpi dan reality adalah AKSI. Yang pertama dan yang paling utama adalah jalani. Lakukan, Insya Allah ada jalan.

Malam itu aku kembali bersemangat, bersemangat untuk tidur lagi.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada November 28, 2011 in Pembakar Semangat

 

Kaitkata: , , , ,

Jangan Tanya Kenapa …

Beberapa hari lalu Hpku berdering, ternyata dari sahabat lama. Tumben, pikir saya.

“Halo…, Kmu dimana aku butuh ketemu” Begitu suara dari seberang. Begitu, singkat. Bahkan sayapun belum sempat menyapa, tanya kabar atau basa-basi yang lainnya.

“Ooh… oke nanti jam 7 saja” Balas saya, sekenanya.

“Sip… nanti aku kesana, masih ditempat biasakan? Monggo dilanjutkan kembali kegiatannya” Dan belum sempat saya menjawab,  sudah dia tutup telponnya.

Hemmm… ada sesuatu ini, pikir saya setelahnya. Tapi itupun begitu cepat berlalu, saya melanjutkan aktivitas lagi. Dan hari itu sangat cepat menuju jam tujuh.

Singkat cerita, sahabat saya berkeluh kesah tentang hubungan cintanya yang baru saja berakhir. Hubungan yang hampir tujuh tahun dijalaninya. Yang saya tau juga, menjalani tujuh tahunnya itu tidak selalu mulus. Berbagai rintangan, halangan dan apa lagi macamnya telah dia lewati dengan pasangannya. Heran saya juga ini kali pertama hubungan dia paling lama, pengertian saya sih tinggal menunggu waktu dan “Sah?.. Sah!!!…” (menikah maksudnya).

Curhat kali itu, saya rasakan beda. Sangat beda, entah karena kita sudah tidak sering berbagi cerita karena beberapa tahun ini terlalu sibuk dengan kegiatan pribadi atau yang lainnya, saya kurang begitu paham. Sejauh yang saya kenal, dia sahabat yang paling struggle, setiap masalah yang datang, dia hadapi dengan sangat santai dan begitu tenangnya. Diapun tak pernah kehabisan solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.

Saya pun tak pernah segan untuk bertanya kepadanya tentang berbagai masalah yang pernah saya hadapi, apa lagi masalah yang satu ini, ‘percintaan’. Dengan satu bungkus rokok upahnya, saya mendapatkan solusi dari setiap permasalahan itu dengan enaknya. Hahahha… nostalgi yang menyenangkan. Tapi keadaan sekarang berbalik 180 derajat. Kesamber setan mana sampai dia berkeluh kesah tentang masalah cinta dengan saya. Tapi okelah, hal itu bisa menjadi semacam penilaian bahwa saya telah satu level naik, untuk masalah yang begituan. Hahahahha…

Tak pernah saya duga, malam itu dengan begitu emosional dia bercerita, lain dari biasanya. Sekali waktu memang diselingi dengan candaan dan ketawa ala SMA, biar suasana tidak terlalu mengharu biru. Tapi saya merasakan berbeda, saya merasakan kalau luka yang dia rasakan begitu dalamnya. Jauh lebih menyakitkan dari yang dulu-dulu pernah dia rasakan. Sungguh saya terharu. Satu, hanjroot… lama gak pernah ketemu, kau begitu berbeda dengan luka yang luar biasa laranya, dan aku jarang menyapa walau hanya sekadar bertanya bagai mana kabarmu. Aku kira kau baik-baik saja. Kedua, ternyata level saya gak hanya naik satu tingkat, bahkan naik 10 tingkat… hahhahahah…

Ehmmmm…. Atau mungkin saya salah memberi waktu buat janji bertemu? Jam 7 itu. Baginya sekarang angka 7 adalah angka sial mungkin.. hehehhe… semoga tidaklah. Sejam kau bercerita dan saya hanya diam mendengarkan, sesekali dibarengi dengan isapan batang rokok yang sangat dalam dan beberapa gelas kopi yang sedari tadi memang sudah menemani.

Sampai pada titik krusial ketika Ia bertanya, “Aku harus bagaimana?”.

Saya sudah menduga akan mengarah ke situ, tapi tetap saja saya tidak bisa memikirkan solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Maafkan aku kawan, kalaulah saya bilang “santai saja, nanti akan dapat yang terbaik kok” bagi saya sangat absurd dan memang sudah tidak layak diberikan ke kamu. Atau “semua akan baik-baik saja, yang sabar yah” atau “apa gak bisa diperbaiki lagi?” atau kata-kata lainnya lagi. Semua orang pasti juga bisa kalau seperti itu, gak usah binggung-binggung mencari aku buat dapat solusi. Malam itu otakku berhenti, bingung mau gimana baiknya. Malam itu saya hanya bisa diam, sesekali menggoda dan beberapa isapan rokok yang lebih dalam lagi. 2 bungkus rokok kita habiskan selang waktu satu setengah jam ini. Menyesakkan

Bagi saya sendiri, disini, sudah bukan masalah cinta atau tidak cinta lagi, sayang atau tidak sayang lagi, suka atau tidak suka lagi. Si dia memiliki sifat yang menyebalkan atau mungkin malahan kamu sendiri. Tujuh tahun yang kamu jalani bersamanya bukan waktu yang singkat menurutku, dan itu sudah bisa memberikan alasan yang paling tepat kenapa perbedaan sudah tidak bisa lagi dimaklumkan. Kebersamaan yang terjalin selama ini kenapa harus terpisahkan? Jika masih kebingungan, jangan tanyakan kepada Tuhan sekarang, karena saat ini kamu belum layak mengetahui jawabannya. Jalani saja apa yang ada. Sungguh saya ikut berduka.

Kawan, sebenarnya kamu sudah punya solusi, cara yang sangat tepat untuk menyelesaikannya. Yang menjadi persoalan sekarang hanyalah, kapan waktu yang tepat melakukannya. Saya diam, karena kamu hanya butuh teman untuk mendengarkan apa yang ingin kamu ungkapkan, bukannya diberikan nasehat layaknya rayuan gombal, cukup menenangkan tapi hanya sebentar. Sama seperti kita waktu dulu menghisap beberapa lintingan ganja. Kita tertawa, ceria, serasa masalah hilang semua. Tapi itu hanya kamu flase saja. Ketika kita tersadar, masalah kembali datang. Saya hanya bisa berdoa semoga kedepannya jauh lebih baik dari sebelumnya, keberuntungan selalu datang untukmu dan semua berjalan sesuai dengan yang kamu harapkan. Cukup itu saja.

Terimakasih, untuk masih tetap mengingatku dan masih percaya untuk berbagi tentang segala halnya. Jika membutuhkan aku lagi, kamu tahu kemana tempat yang harus dituju. Semoga kebahagiaan selalu ada untuk kalian. Salam hangat.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada November 26, 2011 in Corat-coret

 

Kaitkata: ,

Garis Tangan

Ada yang menggantungkan nasib pada garis tangan. Padahal yang dikerjakan tangan jauh lebih menentukan.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada Agustus 20, 2011 in Quote

 

Surat yang Menghapus Jarak 1

Selamat malam menjelang pagi sayang…

Maaf, baru ada waktu membalasnya malam ini. Pagi sampai sore tadi, banyak kuhabiskan untuk mengenapkan mimpi pribadi.

Lebih dari ribuan jam telah kita habiskan bersama kemarin dulu itu. Tapi baru dua puluh empat jam terhitung dari sekarang begitu sangat cepatnya. Lalu tergantikan jarak ribuan meter yang cukup melelahkan ke depan. Sama sepertimu, aku galau. Ini tak seperti biasanya, berpisah denganmu dalam jangka jarak dan waktu. Galau tentang tempat baru. Galau akan waktu yang nanti aku telan untuk kuhabiskan. Galau, bagaimana bisa menyusun cerita tanpamu.

Bahkan malam ini, aku mati-matian berkalang rindu kala menyusun setiap kalimat yang selalu tercekat ketika setiap bayang serupa wajahmu hadir menunggu. Dan jujur, baru kali ini aku merasa terganggu akan hadirnya dirimu. Lalu, “Braaak!!!” mengunci pintu. Tapi tetap saja tak rela untuk mengusirmu keluar. Tak rela kehilangan akan senyum itu, tak rela kehilangan akan cerah pendar bola mata itu, tak rela kehilangan akan cemberutmu yang selalu dibarengi gerutu. Tak rela kehilangan suara saat kau berkicau tentang ini-itu. Aku tak biasa meninggalkan itu, segala sesuatunya, segala halnya tentang dirimu.

“Bertahanlah, aku akan baik-baik saja disana” Itu kata terakhir yang aku ucapkan padamu satu malam yang lalu. Aku lihat kau menatapku tidak seperti biasa, ada mendung disana, ada muram, ada risau yang semakin dramatis ketika menyatu bersama pintu gerbang dengan catnya yang mulai kusam. Aku tak tahan, aku pacu laju motorku sekenanya, tanpa lagi menatapmu. Mungkin kau menilai aku tak peduli saat itu.

Kalau kau ingin tahu. Waktu itu aku mengharu-biru sama seperti dirimu. Bahwa aku sangat membenci setiap adegan yang baru saja kita mainkan, iya. Bahwa sepengal kisah inilah yang paling tak mampu untuk aku perankan, iya. Sama seperti dirimu, aku bergelayut bimbang dan ragu. Tapi tetap saja mencoba gagah dengan dada membuka. Karena bagiku, kau takkan kubiarkan bersandar di bahu yang rapuh dalam pelukanku. Bukankah aku lelaki sayangku? Jadi, tak layak untuk itu.

Dan biarkan rahasia itu hanya kita yang tahu.

Peluk hangatku untukmu, tunggu aku pulang. Bang Toyib tak ada dalam kamus hidupku.

Tetap ceria tanpa aku disana.

Dariku, lelakimu.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada Juli 6, 2011 in Corat-coret

 

Kaitkata: , , , ,

Bukit Senja, Sore Itu

Masih ingatkah sore itu
ketika kita bersama berbagi senja
dipuncak bukit berbatu
duduk bercerita tentang segala halnya

matamu yang mulai berkaca-kaca
ketika memahamkan duka & derita
senyummu yang melengkung manja
ketika tawa masih tetap menyela

aku layaknya kesatria
ketika bebanmu kau timpakan dibahuku
aku bangga...
saat jemari ini mengusap lembut air matamu

tenanglah,
sandarkan semua didadaku
semoga tulang, jaket tipis, dan cinta yang membuncah ini 
mampu menghangatkanmu

jangan terlalu resah menyusun rencana
kita susuri saja jalannya
selangkah & terus melangkah
Lalu, biarkan Tuhan menyelesaikan sisanya
 
Komentar Dimatikan

Posted by pada Juni 10, 2011 in Sajak

 

Kaitkata: , , , ,

What a Wonderful World

  • Lagu ini dipopulerkan oleh Luis Armstrong. Suaranya yang serak-serak basah begitu menenangkan. Terkadang, ketika beban ini terasa berat di bahu, lagu ini membantu meringankan. Setiap kerumitan bukan menjadi lebih gampang, namun terasa lebih menyenangkan. ohh “what a wonderful world” !!!

I see trees of green,
red roses too.
I see them bloom,
for me and you.
And I think to myself,
what a wonderful world.

I see skies of blue,
And clouds of white.
The bright blessed day,
The dark sacred night.
And I think to myself,
What a wonderful world.

The colors of the rainbow,
So pretty in the sky.
Are also on the faces,
Of people going by,
I see friends shaking hands.
Saying, “How do you do?”
They’re really saying,
“I love you”.

I hear babies cry,
I watch them grow,
They’ll learn much more,
Than I’ll ever know.
And I think to myself,
What a wonderful world.

Yes, I think to myself,
What a wonderful world.

Oh yeah.

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada Mei 9, 2011 in Sound of the world

 

Kaitkata: , ,

Sepotong Senja Untuk Pacarku …

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.

Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.
Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.
“barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.

Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…”

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman.

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.

Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja….

Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh…

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.

–Cerpen Pililihan Kompas 1993

Karya: Seno Gumira Ajidarma

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada Mei 6, 2011 in Corat-coret

 

Kaitkata: , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.